Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tidak dapat dilepaskan dari sosok Djazman Al-Kindi. Lahir dari keluarga penghulu Keraton Yogyakarta, ia tumbuh menjadi seorang cendekiawan Muslim, aktivis Muhammadiyah, sekaligus tokoh penting di balik lahirnya organisasi mahasiswa yang kini berkembang di berbagai perguruan tinggi Indonesia.
Djazman Al-Kindi lahir di Yogyakarta pada 6 September 1938. Ia merupakan putra KRT. Wardan Diponingrat, seorang penghulu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Latar belakang keluarganya tidak menjadikannya hanya berkutat pada lingkungan bangsawan. Justru, perjalanan intelektualnya membawanya pada dunia pendidikan, gerakan mahasiswa, dan perjuangan membangun umat.
Pendidikan dasarnya ditempuh di sekolah-sekolah Muhammadiyah, mulai dari Sekolah Rakyat (SR), SMP Muhammadiyah, hingga SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), mengambil bidang Sastra dan Kebudayaan serta Geografi, dan menyelesaikan pendidikannya pada 1965.
Menggagas Organisasi Mahasiswa yang Mandiri
Salah satu warisan terbesar Djazman Al-Kindi adalah perannya dalam proses kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Sebelum IMM berdiri, mahasiswa Muhammadiyah masih berada dalam Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah.
Sejak 1961, Djazman bersama sejumlah mahasiswa dan aktivis muda Muhammadiyah mulai menggagas perlunya organisasi mahasiswa yang mandiri. Gagasan tersebut melibatkan sejumlah tokoh dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya Soedibyo Markoes, Rosyad Soleh, Amien Rais, Yahya A. Muhaimin, dan Marzuki Usman.
Mereka memiliki pandangan bahwa mahasiswa Muhammadiyah membutuhkan wadah tersendiri untuk mengembangkan potensi intelektual, keislaman, dan pengabdian sosial. Organisasi mahasiswa tidak cukup hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi harus menjadi tempat pembentukan karakter dan pengembangan pemikiran.
Gagasan tersebut akhirnya melahirkan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada 14 Maret 1964. Djazman Al-Kindi menjadi salah satu tokoh kunci dalam proses pendiriannya.
Kehadiran IMM menjadi bagian penting dalam perjalanan kaderisasi Muhammadiyah, khususnya dalam membangun generasi muda yang memiliki integritas keislaman, intelektualitas, dan tanggung jawab kebangsaan.
Bukan Hanya Pendiri, tetapi Juga Arsitek Perkaderan
Kontribusi Djazman tidak berhenti pada pendirian IMM. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang memberikan perhatian besar terhadap sistem kaderisasi Muhammadiyah.
Melalui berbagai gagasannya, perkaderan mulai dikembangkan secara formal, berjenjang, sistematis, dan lebih terorganisasi. Pendekatan ini menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan dan pengembangan sumber daya manusia Muhammadiyah.
Atas kontribusinya tersebut, Djazman dikenal sebagai Bapak Perkaderan Muhammadiyah. Ia memandang pendidikan dan kaderisasi sebagai investasi jangka panjang untuk membangun organisasi yang memiliki arah perjuangan dan kapasitas intelektual.
Pemikirannya juga tercermin dalam kiprahnya di bidang pendidikan tinggi. Ia pernah mengikuti Management Courses di University of Malaya, Kuala Lumpur, pada 1968. Sebelum 1976, ia juga mengikuti program non-gelar di Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada.
Membangun Pendidikan sebagai Basis Kaderisasi
Salah satu kontribusi penting Djazman dalam dunia pendidikan adalah keterlibatannya dalam pendirian Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Pada 1979, ketika menjabat sebagai Rektor IKIP Muhammadiyah Surakarta, ia memprakarsai penggabungan IKIP Muhammadiyah Surakarta dengan Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Surakarta. Proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan berdirinya UMS yang secara resmi memperoleh keputusan pendirian pada 1981.
Bagi Djazman, perguruan tinggi Muhammadiyah tidak semestinya hanya menjadi tempat memperoleh gelar akademik. Kampus juga harus menjadi ruang pembentukan karakter, pengembangan keilmuan, dan kaderisasi.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui pendirian Pondok Kader Hajjah Nuriyah Shabran di lingkungan UMS. Lembaga ini menjadi wadah pendidikan kader Muhammadiyah dengan peserta dari berbagai wilayah Indonesia.
Pondok Shabran memberikan perhatian terhadap penguatan keislaman, kemuhammadiyahan, dan kemampuan bahasa Arab. Kehadirannya menjadi salah satu bukti bahwa Djazman berusaha menghubungkan pendidikan formal dengan pembinaan ideologi dan kepemimpinan kader.
Dari Kampus hingga Panggung Kebangsaan
Selain aktif dalam gerakan Muhammadiyah dan pendidikan, Djazman juga memiliki pengalaman dalam berbagai lembaga dan ruang pengabdian publik.
Ia pernah menjadi guru SMA Muhammadiyah Yogyakarta, dosen IKIP Negeri Surakarta, Pemimpin Umum Majalah Suara Muhammadiyah, serta terlibat dalam sejumlah lembaga pendidikan tinggi swasta.
Pada 1986, ia menjadi ketua pertama Majelis Pendidikan Tinggi dan Pengajaran Muhammadiyah yang kemudian berkembang menjadi Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (MPTPP).
Di ranah kebangsaan, Djazman juga pernah menjadi anggota DPR GR/MPRS dan anggota DPRD Sumatera Utara. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kiprahnya tidak terbatas pada aktivitas organisasi, tetapi juga menjangkau ruang pendidikan, sosial, dan pemerintahan.
Warisan yang Terus Hidup dalam Gerakan IMM
Djazman Al-Kindi wafat pada 15 Agustus 2000. Namun, gagasan dan pengabdiannya tetap menjadi bagian dari sejarah panjang Muhammadiyah dan IMM.
Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa latar belakang keluarga, pendidikan, dan posisi sosial dapat menjadi titik awal untuk membangun pengabdian yang lebih luas. Dari lingkungan Keraton Yogyakarta, ia memilih jalan perjuangan melalui pendidikan, perkaderan, dan gerakan mahasiswa.
Bagi kader IMM hari ini, mengenal Djazman bukan sekadar mengingat nama pendiri organisasi. Lebih dari itu, ada nilai yang perlu diteruskan: keberanian menggagas perubahan, kesungguhan membangun tradisi intelektual, serta komitmen menjadikan pendidikan sebagai jalan pengabdian.
Sebab, organisasi yang besar bukan hanya organisasi yang mampu bertahan lintas generasi, melainkan organisasi yang terus melahirkan pemikiran, kepemimpinan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Sumber: Amirullah, Mengenal Djazman Al-Kindi, Putra Penghulu Keraton, Sang Pendiri IMM, PC Djazman Al-Kindy Kota Yogyakarta.









