Persatuan tidak selalu harus disampaikan melalui kata-kata yang terdengar. Terkadang, gerakan tangan dan bahasa isyarat justru mampu menghadirkan pesan yang begitu kuat tentang kesetaraan, keberagaman, dan pentingnya memberikan ruang kepada setiap orang.

Semangat tersebut menjadi salah satu sorotan dalam kegiatan Bincang Sagu bertajuk “Pemuda Makan Puji” yang berlangsung di kawasan Taman Trisila, Kota Jayapura, Papua, pada Rabu, 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98.

Kegiatan yang digelar melalui kolaborasi Komunitas Colo Sagu dan Polresta Jayapura Kota ini menjadi ruang pertemuan bagi generasi muda dari berbagai latar belakang untuk saling berbagi pengalaman, menyampaikan gagasan, serta memperkuat semangat persatuan.

Salah satu hal menarik dari kegiatan tersebut adalah hadirnya perspektif komunitas Tuli dan penggunaan bahasa isyarat yang turut mewarnai pesan kebersamaan.

Stevani, Ketua Komunitas Tuli Jayapura, menjadi salah satu figur yang membagikan pengalamannya dalam membangun kepercayaan diri. Kehadirannya memperlihatkan bahwa penyandang disabilitas juga memiliki kemampuan, potensi, dan hak yang sama untuk berkontribusi dalam kehidupan masyarakat.

Persatuan Bukan Hanya Tentang Bersama, tetapi Juga Tentang Kesetaraan

Keterlibatan komunitas Tuli dalam ruang dialog kepemudaan menjadi pengingat bahwa semangat persatuan tidak boleh berhenti pada slogan dan seremoni.

Persatuan juga perlu diwujudkan melalui kesempatan yang setara, termasuk memastikan generasi muda penyandang disabilitas memperoleh ruang untuk menyampaikan pendapat dan mengembangkan potensinya.

Bahasa isyarat menjadi bagian penting dari komunikasi yang inklusif. Keberadaannya menunjukkan bahwa perbedaan cara berkomunikasi tidak seharusnya menjadi penghalang bagi seseorang untuk terlibat dalam kegiatan sosial maupun gerakan kepemudaan.

Selain menghadirkan perwakilan komunitas Tuli, Bincang Sagu juga menjadi panggung bagi anak muda Papua yang memiliki prestasi di berbagai bidang, mulai dari industri kreatif, pertanian, hingga kegiatan kebangsaan.

Melalui pengalaman para narasumber, generasi muda didorong untuk percaya terhadap kemampuan diri, berani menghasilkan karya, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Dari Papua, Pesan Persatuan untuk Indonesia

Kegiatan Bincang Sagu juga mengangkat sagu sebagai simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Papua. Dalam suasana dialog yang terbuka, nilai budaya lokal dipertemukan dengan semangat kolaborasi dan kebersamaan.

Momentum Hari Sumpah Pemuda ini menjadi pengingat bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kekuatan yang dapat mempertemukan berbagai gagasan dan pengalaman.

Lebih jauh, kehadiran bahasa isyarat dalam ruang kepemudaan memberikan pesan penting: membangun Indonesia yang bersatu berarti memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal atau terabaikan.

Sebab, masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang paling lantang bersuara, tetapi juga oleh mereka yang selama ini membutuhkan kesempatan lebih besar agar gagasan dan aspirasinya mendapatkan tempat.

Dari Jayapura, Bincang Sagu menghadirkan pesan bahwa persatuan sejati bukan sekadar berbicara dengan bahasa yang sama, melainkan kesediaan untuk memahami, menghargai, dan mendengarkan setiap orang, termasuk mereka yang berkomunikasi tanpa suara.

WartaPlus — Bahasa Isyarat di Bincang Sagu