PONTIANAK — Buku bukan sekadar kumpulan halaman untuk dibaca, tetapi juga dapat menjadi jembatan untuk memahami perasaan, berbagi pengalaman, dan membangun kepedulian terhadap sesama. Semangat inilah yang dihadirkan komunitas Masyarakat Bibliofil Pontianak (Pablos) dalam memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia.
Melalui kegiatan berkumpul, membedah buku, dan berdiskusi, Pablos menghadirkan ruang aman bagi anggotanya untuk saling mendengarkan serta menyampaikan cerita tanpa takut dihakimi.
Momentum ini juga menjadi kesempatan bagi komunitas untuk menyambut anggota baru sekaligus mempererat hubungan antarsesama pencinta buku. Di tengah kesibukan dan berbagai tekanan kehidupan, kegiatan sederhana seperti membaca bersama dan saling mendengarkan menjadi bentuk kepedulian yang bermakna.
Bagi Pablos, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami tulisan, tetapi juga dapat membuka jalan untuk memahami manusia dan pengalaman hidupnya. Melalui diskusi buku, setiap anggota memiliki kesempatan untuk menyampaikan pandangan, berbagi pengalaman, serta belajar menghargai perasaan orang lain.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh setiap 10 Oktober menjadi pengingat bahwa kesehatan mental membutuhkan perhatian bersama. Kehadiran lingkungan sosial yang suportif merupakan salah satu hal penting untuk membantu seseorang merasa diterima dan dihargai.
Melalui pesan hangat, "Ingatlah selalu bahwa kalian berharga," Pablos menegaskan pentingnya menghargai setiap individu, termasuk cerita dan suara yang mereka bawa.
Apa yang dilakukan Masyarakat Bibliofil Pontianak menunjukkan bahwa komunitas literasi dapat menjadi lebih dari sekadar tempat bertukar rekomendasi bacaan. Ia juga dapat tumbuh menjadi ruang perjumpaan yang merawat empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap kesehatan mental.
Sebab, tidak semua orang membutuhkan jawaban atas persoalannya. Terkadang, mereka hanya membutuhkan ruang untuk bercerita dan seseorang yang bersedia mendengarkan.









