Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memang menjanjikan kemajuan teknologi. Namun, di balik kecanggihan tersebut, ada persoalan lingkungan yang tidak boleh diabaikan: kebutuhan air untuk mendukung operasional pusat data atau data center.
Rencana pembangunan data center AI di kawasan Jatiluhur menjadi perhatian karena berpotensi menambah tekanan terhadap sumber daya air yang juga dibutuhkan masyarakat Jakarta dan sekitarnya.
Data center membutuhkan sistem pendingin untuk menjaga server tetap beroperasi. Bergantung pada teknologi yang digunakan, proses ini dapat membutuhkan air dalam jumlah besar. Karena itu, pembangunan fasilitas digital perlu mempertimbangkan ketersediaan air, dampak lingkungan, dan kebutuhan masyarakat setempat.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun perlu mengambil sikap dan memastikan bahwa pengembangan infrastruktur teknologi tidak mengabaikan risiko krisis air. Kajian dampak lingkungan, transparansi penggunaan air, serta perlindungan terhadap kebutuhan dasar masyarakat harus menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan.
Di sisi lain, pembangunan pusat data AI di Jatiluhur juga memunculkan pertanyaan tentang prioritas pembangunan. Apakah kemajuan teknologi harus selalu berjalan beriringan dengan peningkatan konsumsi sumber daya alam, atau justru mendorong inovasi yang lebih ramah lingkungan?
Sebab, teknologi seharusnya hadir untuk memudahkan kehidupan manusia, bukan malah menambah beban bagi masyarakat yang membutuhkan air bersih. AI boleh semakin pintar, tetapi kebijakan pembangunan juga harus semakin bijak.
Sumber: LBH Jakarta — Pembangunan Data Center AI di Jatiluhur










