Greenpeace Indonesia mendesak pemerintah agar lebih serius menangani krisis iklim yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat. Desakan ini disampaikan melalui aksi damai di kawasan Bundaran HI, Jakarta, bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Melalui aksi tersebut, Greenpeace membentangkan spanduk berisi tuntutan agar pemerintah menangani krisis iklim dan menekan biaya hidup masyarakat. Pasalnya, bencana ekologis seperti banjir, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem tidak hanya mengancam keselamatan, tetapi juga mengganggu pendapatan serta meningkatkan harga pangan.
Riset Greenpeace Indonesia menunjukkan bahwa dampak krisis iklim paling banyak dirasakan masyarakat pada pola konsumsi dan biaya pangan sebesar 41%, disusul produktivitas dan pendapatan sebesar 39%. Kondisi ini memperlihatkan bahwa krisis iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan ekonomi yang membebani kebutuhan sehari-hari.
Greenpeace menilai pemerintah perlu menghadirkan kebijakan iklim yang berpihak pada masyarakat, bukan hanya berfokus pada angka pertumbuhan ekonomi. Sebab, ketika bencana semakin parah dan biaya hidup terus meningkat, masyarakat membutuhkan langkah nyata untuk melindungi kehidupan dan penghidupan mereka.










